Mengamati dari sosial media, dari realita, dari lingkungan, kita bisa melihat bahwa populasi orang bodoh di Indonesia sangat banyak. Tentu ada level dimana seseorang dikatakan bodoh, dan kita sepakati bahwa definisi orang bisa dikatakan bodoh adalah mereka tidak mampu menggunakan nalarnya.

Lebih parah lagi, orang bodoh tidak sadar dirinya bodoh, justru mereka merasa lebih pintar dibanding kebanyakan orang. Hal ini selaras dengan fenomena psikologi yang disebut sebagai Dunning Kruger Effect.

Apa itu Dunning-Kruger effect?
Melebih-lebihkan kemampuan dirinya sendiri, menilai dirinya lebih pintar dan mahir dibanding orang lain yang justru pengetahuannya lebih baik dari dirinya.

Kita biasa menyebutnya sok pintar.

Apa bedanya sok pintar dengan pura-pura pintar? Sudah jelas bahwa mereka yang pura-pura pintar dari awal sudah sadar dirinya tidak pintar. Kalau sok pintar ya dia tidak bisa mengukur dirinya bahwa dia masih bodoh.

Orang dengan kemampuan metakognitif yang lebih rendah mungkin kesulitan untuk melakukan refleksi kritis terhadap diri sendiri dan memahami sejauh mana pengetahuan mereka mencakup suatu bidang.

Ciri-ciri Orang Bodoh

Ada beberapa karakteristik yang umumnya dianggap sebagai tanda kurang kepahaman atau pengetahuan, beberapa aspek dapat dibahas tanpa merendahkan martabat individu.

  • Ketidakmampuan atau Kurangnya Pemahaman: Orang yang kurang berpengetahuan mungkin menunjukkan kesulitan memahami informasi yang kompleks atau gagal menguasai konsep-konsep tertentu.
  • Ketidakmampuan dalam Kritis Berpikir: Kurangnya kemampuan untuk menganalisis informasi secara kritis dan menyusun pemikiran logis dapat menjadi ciri orang yang kurang berpengetahuan.
  • Ketidakmampuan untuk Belajar dari Pengalaman: Individu yang tidak mampu mengevaluasi dan belajar dari pengalaman masa lalu cenderung mengulang kesalahan atau membuat keputusan yang kurang baik.
  • Ketidakmauan untuk Menerima Opini atau Fakta Baru: Orang yang tidak terbuka terhadap pandangan atau informasi baru dan tetap pada keyakinan atau pemahaman yang sudah usang mungkin menunjukkan kurangnya keinginan untuk berkembang.
  • Ketidakpedulian terhadap Pendidikan: Tanda kurang pengetahuan juga dapat terlihat dari kurangnya minat atau dedikasi terhadap pendidikan formal atau informal.
  • Kesulitan Berkomunikasi: Kurangnya pengetahuan atau pemahaman dapat menciptakan hambatan dalam kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dengan efektif.
  • Ketidakmampuan Menerima Tanggung Jawab: Orang yang kurang berpengetahuan mungkin cenderung menghindari tanggung jawab atau menyalahkan orang lain atas keadaan mereka.

Penting untuk diingat bahwa penilaian terhadap kecerdasan atau pengetahuan seseorang harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak bersifat merendahkan.

Benarkah Masih Banyak Masyarakat Indonesia yang bodoh?

Apa bukti konkrit bahwa Indonesia banyak orang bodoh?

Pertama, mari berbicara soal data. Kita setuju bahwa kebodohan bisa dihilangkan dengan pendidikan, entah lewat sekolah formal atau belajar secara mandiri.

Namun, statistik Kemendikbud menunjukan bahwa pendidikan rata-rata di Indonesia adalah 8 tahun yang artinya tidak tamat SMP. Tentu hal ini sangat berpengaruh bagi kualitas SDM Indonesia, tak heran kalau kita banyak menemukan komentar bernada sindiran ‘SDM rendah’.

Bukankah pendidikan itu bisa kita dapat darimana saja, tak hanya sekolah?

Setuju, bahkan Rocky Gerung terkenal dengan quote “Ijazah itu adalah bukti anda pernah sekolah, bukan bukti pernah berfikir.”

Artinya, ijazahmu tidak membuktikan bahwa pikiranmu ada ‘isinya’ dan kita pun bebas berfikir sekaligus belajar di dalam maupun luar sekolah formal. Tidak harus bersekolah untuk berfikir, apalagi saat ini kita bisa mencari informasi apa saja dari internet.

Lagi-lagi hal terbantah juga dengan data statistik. Orang yang mau belajar di luar pendidikan formal (sekolah) sangatlah sedikit.

Penggunaan smartphone di Indonesia rata-rata 6-7 jam dalam sehari. Sayangnya, penggunaan tersebut bukan untuk belajar, melainkan hanya sekadar mencari hiburan.

Platform digital yang paling banyak dibuka di Indonesia adalah yang memuat video pendek seperti Tik-Tok, Instagram, facebook, dan sejenisnya.

Bukan bermaksud merendahkan tapi apakah kamu berharap bisa mendapatkan ilmu pengetahuan secara utuh dari 30 detik video di Tik-Tok?

Bahkan Tik-Tok tidak didominasi oleh video pendidikan karena isinya kebanyakan hanya hiburan, joget-joget, quotes alay, keresahan remaja puber, dan sebagainya. Indonesia sendiri menempati peringkat kedua pengguna Tik-Tok terbanyak di dunia setelah Amerika.

Celakanya, banyak remaja generasi z yang menjadikan sosial media sebagai bagian dari dirinya. Maksudnya? Mereka mengambil konten yang mereka tonton untuk melengkapi kepribadiannya.

Apa yang kamu konsumsi itulah yang akan membentuk dirimu di kemudian hari. Setiap hari kamu menonton perdebatan politik maka kamu bisa menjadi seorang pendebat ulung, melek politik, dan paham kebijakan negara.

Setiap hari kamu melihat konten joget-joget maka kamu akan menjadi? Tidak mungkin penari, kan? Tentu saja itu menjadikanmu tolol! Ya, serius saya katakan itu.

Generasi z yang paling banyak menikmati akses internet juga sekaligus menjadi korban adanya internet itu sendiri. Penyalahgunaan internet bukan hanya sebatas membuka situs porno, menonton video terlalu banyak tentu juga tidak bagus.

“Racun itu tidak membunuh, yang membunuh adalah dosisnya”

Tidak masalah anda membuka internet tiap hari, yang jadi masalah adalah anda membukannya selama 8 jam sehari! Konyolnya lagi, selama 8 jam itu bukan edukasi yang anda cari melainkan hiburan dunia maya saja.

Anda bisa melihat lebih detail tentang bagaimana pengaruh media sosial terhadap otak.

Berapa banyak orang bodoh yang tidak sadar dirinya bodoh?

Sangat banyak, semua terbukti pada saat ada isu tertentu, sebut saja insiden jatuhnya pesawat atau pandemi covid 19. Berapa banyak netizen yang berubah menjadi insunyur penerbangan, berapa banyak yang tiba-tiba menjadi ahli kesehatan, mereka merasa pintar di sesuatu yang bukan bidangnya.

Usaha Pemerintah Untuk Menuntaskan Kebodohan

Ini urusan yang sangat kompleks, ribet! Semuanya berawal dari kemiskinan. Kemiskinan akan melahirkan kebodohan dan menciptakan kemiskinan lainnya, istilahnya lingkaran setan.

Tapi kan orang kaya juga ada yang bodoh?!

Tentu saja, tapi orang miskin lebih besar kemungkinannya untuk menjadi bodoh. Analogi yang sama, lulusan sarjana lebih mungkin diterima kerja dibanding lulusan SMP.

Kebijakan pemerintah seringkali menyeleweng dari tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Di bidang pendidikan sekolah hanya sebatas gonta-ganti kurikulum yang padahal dari dulu sudah seperti itu dan tak ada perubahan berarti karenanya.

Bagaimana dengan kemiskinan?

Sama saja, saat ini kebijakan hanya menguntungkan kaum 1%. Melihat dari kacamata masyarakat sipil, UU Cipta Kerja malah menguntungkan pengusaha, masyarakat justru ter-PHK. Kuliah hanya menunda fase menganggur, data mengatakan demikian.

Katakanlah pemerintah membangun infrastruktur yang sangat masif, saat ditanya apa manfaatnya bagi masyarakat? Mereka bilang bahwa ini adalah proyek investasi yang keuntungannya dirasakan oleh anak cucu kita kelak.

Cukup masuk akal, tapi bagaimana kalau kita kritisi.

Premisnya, manfaat pembangunan akan dirasakan berpuluh tahun kedepan. Pertama, tidak ada jaminan bahwa hal tersebut akan memberi manfaat kepada saya di masa depan.

Kedua, jika manfaat datang setelah sepuluh tahun berarti tidak ada manfaatnya sampai saat itu tiba kan? Bagaimana anda bisa menjamin masa depan anak anda untuk tetap hidup layak sampai sepuluh atau duapuluh tahun kedepan?

Jangan-jangan masyarakat sudah terlanjur miskin dan mati sebelum janji itu tiba.

Kurangnya pengetahuan justru membuat penguasa menyukainya karena kebijakan apapun yang diambil tidak akan menuai protes karena rakyatnya sendiri tidak tahu apa yang salah.

“Alangkah beruntungnya penguasa bila rakyatnya tidak bisa berpikir.”

Adolf Hitler

Pandangan Tentang Ilmu Pengetahuan

Indonesia dikenal sebagai negara konsevatif yang cenderung menolak ilmu pengetahuan. Anda bisa menyangkalnya sebagai pribadi tapi tidak sebagai kolompok masyarakat.

Kita lihat budaya masyarakat yang sering menolak sains dengan membandingkannya dengan dalil agama. Bukan berarti sains lebih tinggi tapi agama seharusnya bisa berjalan bersama dengan ilmu pengetahuan.

Teknologi selalu berubah tiap jam dan menit, siapa yang tidak mempelajarinya akan tertinggal dan lama-lama tergilas karena tidak mampu beradaptasi. Di Indonesia justru sebaliknya, alih alih mempelajari justru mencari ayat yang relevan guna menyuarakan pertentangan. Tidak sesuai dengan kaidah leluhur, tidak sejalan dengan kitab suci dan sebagainya.

Indonesia itu religius dan amoral disaat bersamaan. Hal ini dibuktikan dengan data Indonesia menjadi negara dengan pengakses pornografi terbanyak di dunia. Berapa banyak konten yang mempertontonkan pornografi, pamer belahan, dan lekuk tubuh di sosial media?

Betapa konyolnya itu?

Konteks sosial dan budaya juga memainkan peran penting dalam memahami kesadaran diri terkait pengetahuan. Beberapa masyarakat mungkin mendorong norma yang menghargai kecerdasan atau pengetahuan, sementara yang lain mungkin menekankan nilai-nilai lainnya khususnya agama. Pengaruh lingkungan dapat membentuk persepsi individu terhadap pengetahuan dan kemampuan mereka.

Kesimpulan terkait alasan mengapa manusia dapat dianggap “bodoh” atau tidak menyadari ketidaktahuannya melibatkan sejumlah faktor kompleks yang mencakup aspek psikologis, sosiologis, dan pendidikan. Beberapa faktor tersebut dapat memberikan pemahaman mengapa individu mungkin tidak menyadari keterbatasan pengetahuannya atau tidak mampu mengakui ketidakmampuannya.

Penggunaan pendekatan positif dan pemberdayaan individu untuk terus belajar dan berkembang dapat menjadi kunci dalam meminimalkan kesenjangan pengetahuan dan meningkatkan pemahaman diri terkait pengetahuan.

Author

Seorang guru honorer yang tak mau naik jabatan PNS. Aktif memberikan edukasi lewat berbagai konten dan forum akademisi sambil berharap mampu merubah tingkat literasi masyarakat Indonesia.Pekerjaan: Influencer Media Sosial dan Tenaga Pengajar (Guru).

Write A Comment